
Pandu, tunggulah! - Kini aku punya seratus jari yang menuding kearahmu - Seratus jari yang akan mengejar - seluruh darah yang mengalir dari mata airmu
Seratus jari yang bergetar ini tak akan berhenti bergetar - sedetik pun hingga darah yang menggenang di padang kuru - entah darahku atau darahmu
("Gandari di Puncak Kegelapan", 2007)
baiklah. kujalani saja kutukan ini
akan kutulis seribu perasaan tentangmu
mulai pagi ini hingga kelak
ketika burung-burung itu tak lagi bersarang di rambutmu
saat itulah semua berakhir
1.1
juga diriku: mencair,
menjelma sungai, tak sanggup kauseberangi
menjadi kesedihan, kaukenang sepanjang jalan
1.2
juga dirimu: mencair,
datang tiap musim penghujan
dengan curah yang tetap, tak berubah
1.1.1
perasaan, aku tak ingin berlebihan
tapi pernahkah kita kosong. benar-benar kosong
datar tanpa tekanan. tetap. tak berlebihan. tanpa emosi
tak ada sama sekali, bahkan untuk sebaris puisi
("Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya", 2007)

Apa yang saya suka dari karya-karya Gunawan Maryanto ini adalah ada kekuatan prosa di dalam baris-baris puisinya, yang menjadi penyangga kuat bagi puisinya. Puisinya bukan bualan emosi, sekedar "curhat" tanpa ujung. Puisinya jelas, sejelas barisan-barisan kata.
Source : http://www.goodreads.com
Quotes : Hati saya berat di sini , terkadang sengaja melampirkan ape yg tersurat secara lelahnya akan kugarapkannya di sini menjadi suatu klise - eqfarraney -
eq.farraney ANOMALOUS
No comments:
Post a Comment